Miris, Klarifikasi RSUD Borong Berbeda dengan yang Disampaikan Kelurga Korban Pasien Rujukan yang Meninggal

 

Borong, NTT//SI.com- Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dinilai lalai dalam megatasi pasien rujukan, hingga menyebabkan pasien meninggal dunia.

Selviana Tijung, Ibu hamil asal Desa Satar Punda Barat, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, meninggal dunia setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Borong.

Kisah pilu keluarga Selviana semakin menyayat hati setelah video pemulangan jenazahnya beredar di media sosial yang memperlihatkan jenazah Selviana dibawah menggunakan perahu rakitan bambu ditengah arus aliran sungai untuk mencapai kampung halaman.

Suami Selviana, Petrus Forfier Insano, menyampaikan kekecewaannya terhadap proses penanganan medis yang diterima istrinya di RSUD Borong.

Petrus menilai ada dugaan keterlambatan tindakan operasi caesar yang berujung pada memburuknya kondisi istrinya hingga meninggal dunia.

Selviana sebelumnya dirujuk dari Puskesmas Dampek ke RSUD Borong pada Rabu (26/08/2026).

Menurut Petrus, rujukan dilakukan karena berdasarkan hasil pemeriksaan medis di Puskesmas Dampek, istrinya dinilai tidak dapat melahirkan secara normal dan membutuhkan tindakan operasi.

Namun, setibanya di RSUD Borong, menurut keterangan keluarga, Selviana justru menjalani proses persalinan dengan pemberian obat perangsang atau induksi.

Pemberian obat tersebut disebut berlangsung hingga Sabtu (29/8/2026), sementara keluarga berulang kali mempertanyakan alasan belum dilakukan operasi caesar.

Menurut Petrus, tenaga kesehatan menyampaikan bahwa masih terdapat peluang bagi istrinya untuk melahirkan secara normal.

Petrus juga mengklaim bahwa, pihak keluarga mendapat penjelasan dari pihak RSUD Borong untuk menunggu hingga 10 kali pemberian obat perangsang sebelum dilakukan operasi caesar.

Petrus mengaku semakin cemas ketika kondisi istrinya terus melemah.

“Bawa ke RSUD Borong ini untuk operasi memang. Tetapi sampai di sini mereka paksa lahir normal. Mereka pakai obat perangsang. Saat kami tanya mereka bilang, tunggu 10 kali baru operasi. Mereka juga bilang sudah pembukaan ke tujuh, sementara istri saya sudah tidak berdaya,” tutur Petrus sembari menangis di ruang jenazah RSUD Borong, Minggu siang.

Operasi Hingga Masuk ICU

Petrus menyebut, istrinya akhirnya menjalani operasi caesar pada Minggu malam (Sabtu malam).

Setelah operasi, Selviana kemudian dilarikan ke ruang Intensive Care Unit (ICU) karena kondisinya kritis.

“Sebenarnya meninggal tadi malam. Hanya bertahan karena alat di ruangan. Makanya baru tadi pagi dinyatakan meninggal dunia,” ujar Petrus.

Petrus mengaku sangat kecewa dengan pelayanan rumah sakit. Ia menilai persoalan nyawa manusia seharusnya menjadi prioritas dalam memberikan pelayanan kesehatan.

Menurutnya, kondisi istrinya masih memiliki peluang untuk diselamatkan apabila tindakan operasi dilakukan lebih cepat.

“Lebih baik istri saya mati pada saat gempa daripada mati karena pelayanan buruk di rumah sakit ini,” kata Petrus lirih.

Pernyataan tersebut merupakan kekecewaan dan penilaian dari pihak keluarga. Penyebab pasti kematian Selviana serta ada atau tidaknya keterlambatan maupun kesalahan dalam penanganan medis masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Keluarga Duga Operasi Dilakukan Setelah Kasus Viral

Keluarga lainnya, Ecel, mengaku mendatangi ruang perawatan RSUD Borong pada Sabtu siang.

Menurut Ecel, saat berada di ruangan tersebut, Selviana menarik tangannya dan memohon agar dirinya berkomunikasi dengan pihak rumah sakit supaya segera dilakukan operasi caesar.

“Saudari saya sudah tidak berdaya. Dia mohon ke saya untuk berusaha supaya pihak rumah sakit segera melakukan operasi caesar,” kata Ecel di RSUD Borong, Minggu siang.

Setelah menerima permintaan tersebut, Ecel kemudian mempertanyakan kondisi Selviana kepada petugas di ruang nifas.

Namun, ia mengaku mendapat teguran karena dinilai bukan pihak yang berhak mengambil keputusan terkait tindakan medis pasien selain suaminya.

Ecel mengatakan dirinya kemudian berdebat dengan petugas. Ia mempertanyakan alasan Selviana dirujuk ke RSUD Borong apabila pada akhirnya tetap diarahkan untuk melahirkan secara normal.

Peristiwa tersebut kemudian ia unggah ke media sosial hingga menjadi viral.

“Dugaan saya mereka operasi saudari saya karena sudah viral. Tetapi kondisinya sudah tidak berdaya,” kata Ecel.

Sebagai keluarga, Ecel mengaku kecewa terhadap pelayanan RSUD Borong. Ia meminta Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur untuk melakukan evaluasi terhadap pelayanan rumah sakit tersebut.

“Pemda Manggarai Timur harus evaluasi total terhadap RSUD Borong. Nanti banyak korban kalau pelayanan seperti ini dibiarkan. Mereka utamakan prosedur dari pada nyawa manusia,” ujarnya.

Meski demikian, Ecel mengatakan pihak keluarga untuk sementara fokus mengurus pemulangan jenazah Selviana ke kampung halaman.

“Setelah urus almarhumah baru kita ambil langkah lanjut terkait peristiwa ini,” imbuhnya.

Sekda Manggarai Timur Turun Tangan

Di tengah suasana duka, Sekretaris Daerah (Sekda) Manggarai Timur, Winsensius Tala, mendatangi RSUD Borong pada Minggu sore.

Winsensius langsung menemui suami Selviana di ruang jenazah. Kedatangannya untuk memberikan penguatan kepada keluarga sekaligus memastikan proses administrasi dan pemulangan jenazah ke kampung halaman berjalan lancar.

Di hadapan keluarga, Winsensius kemudian menghubungi Direktur RSUD Borong dan meminta agar ambulance disiapkan untuk mengantar jenazah Selviana.

“Segala urusan kepulangan saya yang urus,” kata Winsensius kepada keluarga.

Ia juga meminta izin kepada Petrus agar bayi Selviana yang baru lahir untuk sementara dirawat oleh keluarga, mengingat kondisi kampung halaman yang masih terdampak gempa.

Rumah keluarga Selviana disebut telah ambruk akibat gempa bumi yang melanda wilayah tersebut sekitar dua pekan sebelumnya.

“Ini demi kebaikan nona kecil. Biar kami yang rawat. Kami juga akan minta Nakes untuk mengurus kesehatannya dengan baik,” kata Winsensius.

RSUD Borong Bantah Ada Penundaan Penanganan

Sementara itu, pihak RSUD Borong membantah adanya penundaan penanganan sebagaimana yang disampaikan keluarga Selviana.

Humas RSUD Borong, Mariana M. Galis, mengatakan seluruh tindakan yang diberikan kepada Selviana merupakan rangkaian penanganan medis yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan klinis pasien pada saat itu.

Menurut Mariana, setiap tindakan dilakukan berdasarkan pertimbangan tim medis yang berkompeten dan mengacu pada standar prosedur operasional (SOP) yang berlaku.

“Menurut kami penanganan medis sudah sesuai, di mana rangkaian penanganan pada pasien mulai dari masuk sudah sesuai standar prosedur operasional bagian obstetri ginekologi, kemudian sesuai SOP juga sesuai pada pelayanan anestesi yang berlaku di RSUD Borong,” jelas Mariana dalam konferensi pers yang turut dihadiri Direktur RSUD Borong, dokter spesialis obstetri dan ginekologi (Obgyn), serta dokter anestesi, Senin siang.

Dengan demikian, terdapat perbedaan keterangan antara keluarga Selviana dan pihak RSUD Borong mengenai proses penanganan medis yang dijalani almarhumah.

Keluarga mempertanyakan alasan tindakan operasi tidak dilakukan lebih awal, sementara pihak rumah sakit menegaskan bahwa seluruh tindakan medis telah diberikan sesuai kondisi pasien dan SOP yang berlaku.

Kini, keluarga tengah berduka dan memulangkan jenazah Selviana ke kampung halaman. Di sisi lain, bayi yang baru dilahirkannya harus menjalani hari-hari pertama tanpa kehadiran sang ibu.

Persoalan mengenai ada atau tidaknya keterlambatan penanganan medis serta penyebab pasti meninggalnya Selviana diharapkan dapat dijelaskan secara transparan melalui evaluasi dan pemeriksaan lebih lanjut.

Pewarta : Dody Pan

© 2025 SaranaInformasi.com | Media Cetak & Online
Portal Berita Akurat & Berimbang