Dalam Rangka Dies Natalis, PMKRI Ruteng Berdayakan Warga Pocoleok yang Menolak Geothermal


10 shares

 

Ruteng, NTT//SI.com- Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) cabang Ruteng Santu Agustinus mengadakan pelatihan pembuatan pakan fermentasi bagi warga Pocoleok, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai yang menolak rencana pengembangan geothermal ulumbu, pada Sabtu (16/09/2023).

Ketua Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) cabang Ruteng, Laurensius Lasa mengatakan bahwa, kegiatan ini dalam rangka Dies Natalis PMKRI cabang Ruteng yang ke-54.

“Kegiatan ini dalam rangka Dies natalis PMKRI cabang Ruteng Santu Agustinus yang ke-54 yang jatuh pada 14 kemarin”, ungkap Laurensius dalam keterangan tertulisnya yang dikirim kepada media ini via WhatsApp Selasa (19/09/2023) pukul 15.18 wita

Laurensius Lasa menegaskan bahwa, kegiatan ini wujud kepedulian PMKRI Ruteng untuk memberdayakan warga Pocoleok yang menolak rencana pengembangan geothermal ulumbu di Pocoleok.

“Ini merupakan kepedulian dan inisiatif kami di PMKRI cabang Ruteng untuk memberdayakan masyarakat adat Pocoleok ditengah penolakan mereka (warga) terhadap rencana pemerintah kabupaten Manggarai dalam mengembangkan geothermal ulumbu di Pocoleok”, tegas Laurensius.

Selain itu, pria yang kerap disapa Loin itu menjelaskan bahwa, tujuan program pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan pembuatan pakan ternak fermentasi dapat meningkatkan taraf perekonomian masyarakat.

“Pelatihan pembuatan pakan ternak fermentasi ini bertujuan untuk meningkatkan sumber daya bagi masyarakat sehingga kemudian dapat meningkatkan taraf perekonomian bagi masyarakat Pocoleok”, jelas Loin

Loin melanjutkan bahwa program pemberdayaan masyarakat tersebut untuk menunjang kestabilan ekonomi ditengah aktivitas penolakan warga terhadap rencana pengembangan geothermal ulumbu di Pocoleok.

“Berdasarkan hasil advokasi kami bahwa warga sempat mengeluh. Pasalnya mereka (warga) harus melepas kesibukannya sehari-hari sebagai peternak karena menghabiskan waktunya untuk menghadang aparat kepolisian bersama PLN yang hendak ke wilayah itu. Atas dasar itu kami berinisiatif untuk melakukan pelatihan agar warga yang menolak geothermal memiliki kestabilan ekonomi dan tetap konsisten untuk mempertahankan hajat hidupnya di Pocoleok “, ucap Loin

Baca juga:  Polsek dan Pemerintah Kecamatan Gelar Sholat Istighosah Berjemaah

Selain itu, Loin juga memaparkan hasil advokasi terkait dengan Corporate Social Responsibility (CSR) berupa babi dari pihak PLN beberapa waktu lalu.

“Selain itu juga, kami menemukan data bahwa CSR yang diberikan dari pihak PLN hanya untuk warga yang setuju dengan geothermal. Tentu ini menyimpang dari konsep keadilan dalam hidup bernegara. Sehingga kami pun hadir untuk memberdayakan warga Pocoleok yang menolak geothermal sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh warga”, pungkas Loin.

Sementara itu kata Laurensius, seorang warga atas nama Katarina Emuk seorang ibu peternak babi yang menolak geothermal merasa senang dengan adanya inisiatif dari PMKRI Ruteng dalam mengadakan pelatihan pembuatan pakan ternak fermentasi.

“Emet neho dakun, senang keta laku (kalau menurut saya, saya sangat senang). Ai naang ela selama ho’o dami lite eme toe ca sua ntaung hitu po nganceng hasil seng pat ko lima juta (Apalagi ternak babi kami selama ini, kalau belum berumur satu atau dua tahun baru dapat uang empat atau lima juta). Sehingga one mai kegiatan ho’o bao lami baen co’o caran pande pakang kut gelang dapat seng (sehingga dari kegiatan ini kami mendapat cara untuk membuat pakan babi supaya cepat mendapatkan uang). Jadi, terima kasi keta lami (Jadi, kami mengucapkan terima kasih).

Selain itu lanjut dia, Tadeus Sukardin menyampaikan tidak pernah menduga untuk mendapatkan pelatihan dari organisasi mahasiswa seperti PMKRI yang semestinya dilaksanakan oleh pemerintah.

“Kalau selama ini kan, kita selalu mengharapkan tim dari pemerintah untuk melakukan pelatihan-pelatihan seperti ini, agar dapat memperbaiki perekonomian kami disini, tapi sampai sekarang belum ada”, ungkap Tadeus.

Tadeus menambahkan bahwa terkait dengan situasi Pocoleok saat ini, warga melepaskan pekerjaan pokoknya masing-masing. Karena mereka menghabiskan waktunya untuk menghadang pihak PLN yang hendak masuk ke wilayah itu. Sehingga kegiatan ini dapat mengurangi beban bagi warga ketika melakukan aktivitas penolakan terhadap geothermal.

Baca juga:  Bersama Pemerintah dan Swasta, PTBA Dukung Rehabilitasi Mangrove

“Jujur saja, selama ini waktu kami terkuras hanya untuk menjaga pihak PLN agar tidak boleh masuk. Sehingga kami mengabaikan pekerjaan pokok kami masing-masing termasuk beternak. Justru, geliat hari ini akan membantu kami ketika ada hal-hal yang berkaitan dengan geothermal”, ungkap Laurensius.

Untuk diketahui bahwa temuan PMKRI cabang Ruteng warga (peternak babi) yang menolak rencana pengembangan geothermal ulumbu di Pocoleok tidak mendapatkan Corporate Social Responsibility (CSR) berupa babi dari pihak PLN. Babi yang dipelihara saat ini murni hasil karya warga Pocoleok yang mengikuti pelatihan pembuatan pakan ternak fermentasi hari ini.

Editor : Dody Pan


Like it? Share with your friends!

10 shares

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seeet✋, Tidak boleh Copas, Izin dulu pada yg punya Media.🤛🤛👊