Dampak Normalisasi, Habitat Flora dan Fauna Terancam Punah

  • Whatsapp
Photo alat berat (exafator) saat sedang mengerjakan proyek pengerukan sungai Desa Tempirai
Photo alat berat (exafator) saat sedang mengerjakan proyek pengerukan sungai Desa Tempirai

PALI//SI.Com–,Pengerjaan proyek normalisasi sungai Tempirai yang dikerjakan oleh CV Rom Persada dengan nilai proyek Rp 4.606.748.000( empat milyaran enam ratus enam juta tujuh ratus empat puluh delapan ribu rupiah) yang berlokasi di Desa Tempirai Timur Kecamatan Penukal Utara Kabupaten Penukal abab Lematang Ilir (PALI) Sumsel, menimbulkan permasalahan.

 

Hal tersebut diungkap oleh seorang nelayan warga Desa Tempirai, sebut saja R (67 Th), dia mengatakan kepada awak media saat dibincangi di kediamannya. “Sejak ada kegiatan pengerukan di sungai, hasil tangkapan ikan kami sangatlah jauh Menurun, biasanya hasil jaring ikan yang kami dapatkan untuk satu hari bisa mencapai tiga atau empat kilogram, kini hanya dapat satu atau dua ekor ikan saja sangatlah jauh dibandingkan sebelum ada pengerukan sungai,” Ujarnya.

 

Sutiyono Subir Ketua Ikatan Remaja Tempirai (IRATE) menyesalkan hal ini. “Sangatlah disesalkan adanya normalisasi tersebut, menurut kami ini akibat kurangnya perencanaan dan sosialisasi dengan masyarakat, setelah kami tinjau kelapangan ternyata bukanlah normalisasi sungai, akan tetapi ini pembuatan sungai baru, yang seperti ini akibat nya akan berdampak pada flora dan fauna karena ikan dari sungai takut untuk masuk karena airnya bercampur lumpur hitam dan juga berpengaruh pada penyerapan air dan (CO2) karena pohon mangrove sebagian sudah rusak akibat aktivitas pengerukan tersebut.” Ungkapnya.

Photo Papan informasi proyek Pengerjaan pengerukan sungai Desa Tempirai

Komcab LSM LP-KPK Kabupaten PALI, Kunci alam, Minggu (10/10) Ia Berharap Pemerintah lebih bijak dalam penempatan pembangunan skala prioritas “Kami berharap kepada pihak-pihak yang terkait terutama pemerintah haruslah seksama dalam perencanaan agar memperhatikan aspek lingkungan positif dan negatifnya supaya tidak ada pihak yang dirugikan, nelayan juga harus dipikirkan, hal seperti ini bisa juga berakibat rusaknya ekosistem lingkungan dan satwa liar di sekitar.

 

Sambungnya lagi, sangatlah tidak efektif dengan dana yang fantastis akan tetapi sangat sedikit manfaat yang dirasakan oleh masyarakat, bahkan masyarakat yang mayoritas nelayan dirugikan tanpa ada solusi atau alternatif lain buat mereka.”Ujar Kunci

 

Pihak pelaksana pekerjaan tersebut, saat dihubungi melalui pesan WhatsApp, terkait hal itu, dia menjawab dia koordinasi sama dinas mengenai hal itu karena itu pekerjaan dinas, balas Datuk cik umin via WhatsApp.

 

( Ed )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *