Di balik layar Zoom, semangat membangun organisasi pers yang kompeten, berintegritas, dan bermartabat terus menyala. PJS menatap Batam bukan sekadar sebagai tempat pelaksanaan Rakernas III, melainkan sebagai salah satu langkah penting menuju cita-cita menjadi konstituen Dewan Pers.
Malam belum terlalu larut ketika layar-layar perangkat elektronik menampilkan wajah-wajah penuh semangat dari berbagai penjuru Tanah Air. Meski terpisah jarak dan wilayah, para pengurus Pro Jurnalismedia Siber (PJS) tetap terhubung dalam satu ruang virtual, membawa harapan yang sama: membangun organisasi profesi jurnalis yang semakin solid, profesional, dan bermartabat.
Jumat malam, 23 Oktober 2026, mulai pukul 19.30 WIB, PJS menggelar rapat virtual melalui Zoom untuk mematangkan persiapan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III yang direncanakan berlangsung di Batam, Kepulauan Riau, pada 4–5 November 2026.
Rapat dipimpin langsung Ketua Umum PJS, Mahmud Marhaba, serta diikuti Sekretaris Jenderal, Bendahara Umum, dan jajaran KSB—ketua, sekretaris, dan bendahara—DPD serta DPC PJS dari berbagai daerah di Indonesia. Pertemuan berlangsung lancar dan khidmat, dengan ruang diskusi yang terbuka bagi peserta untuk menyampaikan masukan, pandangan, serta gagasan demi kemajuan organisasi.
Namun, di balik agenda persiapan sebuah kegiatan nasional, tersimpan cerita yang lebih besar: tentang kebersamaan, kesediaan untuk saling mendengar, dan keyakinan bahwa organisasi yang kuat tidak dibangun oleh satu orang, melainkan oleh banyak orang yang bersedia berjalan bersama.
Bagi Mahmud Marhaba, antusiasme peserta rapat menjadi gambaran nyata bahwa semangat membesarkan organisasi masih menyala di berbagai daerah. Ia mengapresiasi kehadiran dan partisipasi para pengurus, sekaligus mendengarkan serta mempertimbangkan beragam masukan yang disampaikan selama pertemuan berlangsung.
Baginya, kekuatan sebuah organisasi profesi tidak semata-mata ditentukan oleh struktur kepengurusan, besarnya nama, ataupun banyaknya program yang tercantum di atas kertas. Lebih dari itu, kekuatan organisasi tumbuh dari kekompakan, kepedulian, dan kesediaan setiap anggota untuk saling membantu.
Semangat saling mengasuh, berbagi gagasan, menyumbangkan pemikiran, dan bahu-membahu menghadapi tantangan merupakan modal penting bagi PJS untuk terus bertumbuh.
Di tengah dinamika dunia jurnalistik yang terus berubah, kebersamaan semacam itu menjadi fondasi yang tidak boleh diabaikan. Sebab, membangun organisasi profesi bukan sekadar menghimpun orang-orang dengan pekerjaan serupa, melainkan menyatukan komitmen untuk meningkatkan kualitas profesi itu sendiri.
Rakernas III PJS di Batam pada 4–5 November 2026 dipersiapkan sebagai momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus memantapkan langkah menuju cita-cita menjadi konstituen Dewan Pers.
Menurut rencana yang disampaikan dalam persiapan kegiatan, Rakernas III tersebut akan dihadiri perwakilan Dewan Pers serta pengurus dan anggota PJS dari berbagai wilayah di Indonesia.
Ketua panitia Rakernas juga merencanakan rangkaian kegiatan yang tidak berhenti pada forum rapat kerja nasional. Setelah agenda Rakernas, PJS berencana menyelenggarakan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang akan diikuti ratusan peserta dari Kepulauan Riau dan daerah sekitarnya.
Rencana tersebut memperlihatkan bahwa konsolidasi organisasi dan peningkatan kompetensi wartawan ditempatkan dalam satu rangkaian ikhtiar. PJS tidak hanya ingin memperkuat barisan kepengurusan, tetapi juga mendorong lahirnya jurnalis yang memiliki kemampuan profesional dan memahami tanggung jawabnya kepada publik.
Meski demikian, target menjadi konstituen Dewan Pers tetap membutuhkan kerja nyata, pemenuhan persyaratan, dan proses sesuai ketentuan yang berlaku. Harapan menuju 2027 menjadi penyemangat bagi PJS untuk menuntaskan tahapan yang masih harus dipenuhi.
Bagi organisasi ini, cita-cita tersebut bukan sekadar soal pengakuan kelembagaan. Ada tanggung jawab yang lebih mendasar di dalamnya: memastikan bahwa jurnalisme dijalankan oleh insan pers yang terus belajar, menjaga integritas, dan memahami etika profesinya.
Dalam berbagai kesempatan, Mahmud Marhaba menegaskan bahwa tujuan PJS adalah menjadikan jurnalis kompeten, berintegritas, dan bermartabat.
Pesan itu sekaligus menegaskan makna PJS sebagai rumah bersama. Sebuah rumah yang tidak hanya menjadi tempat berkumpul, bertukar kabar, atau membangun jaringan, tetapi juga ruang untuk belajar, berbenah, dan meningkatkan kapasitas diri.
Di rumah itu, setiap anggota diharapkan memperoleh kesempatan untuk berkembang. Setiap daerah didorong menyusun program peningkatan kompetensi, termasuk penyelenggaraan UKW secara berkelanjutan sesuai kebutuhan, kemampuan, dan ketentuan yang berlaku.
Arah tersebut penting karena profesionalisme jurnalistik tidak lahir hanya dari pengalaman menulis berita atau lamanya seseorang berada di lapangan. Kompetensi juga menuntut pemahaman terhadap kode etik jurnalistik, ketepatan dalam memverifikasi informasi, keberimbangan, independensi, serta kesadaran akan dampak pemberitaan terhadap masyarakat.
Karena itu, peningkatan kompetensi tidak semestinya dipandang sebagai formalitas untuk memenuhi administrasi organisasi. Kompetensi merupakan bagian dari tanggung jawab moral seorang wartawan kepada publik.
Semakin baik kualitas jurnalis, semakin besar pula harapan masyarakat untuk memperoleh informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Keseriusan PJS dalam membangun profesionalisme juga tercermin dalam rencana untuk menjadikan kompetensi sebagai salah satu persyaratan bagi pengurus yang menduduki posisi KSB di tingkat DPD dan DPC pada masa mendatang.
Rencana tersebut menunjukkan arah pembenahan organisasi yang menempatkan kapasitas dan profesionalitas sebagai bagian penting dari kepemimpinan. Pelaksanaannya tentu perlu dirumuskan secara jelas melalui mekanisme organisasi dan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.
Pesannya tegas: mereka yang memimpin organisasi profesi diharapkan tidak hanya mampu mengelola struktur dan menjalankan program, tetapi juga memahami nilai, standar, dan tanggung jawab profesi jurnalistik.
Dengan demikian, PJS ingin membangun lingkungan yang mendorong jurnalis untuk terus meningkatkan kualitas, bukan sekadar mempertahankan status sebagai anggota sebuah organisasi.
Harapan itu juga menyentuh hubungan antara wartawan dan para mitra kerjanya. Wartawan yang kompeten dan berintegritas semestinya hadir sebagai mitra yang profesional, bekerja berdasarkan fakta, menjunjung etika, serta menghormati hak setiap pihak untuk memperoleh pemberitaan yang adil.
Pers yang sehat bukanlah pers yang kehilangan daya kritisnya, melainkan pers yang mampu menjalankan fungsi kontrol secara bertanggung jawab. Bukan pula pers yang selalu menyenangkan semua pihak, melainkan pers yang teguh pada fakta, independen dalam menjalankan tugas, dan berani mempertanggungjawabkan setiap karya jurnalistiknya.
Rapat virtual Jumat malam itu pada akhirnya bukan hanya tentang mempersiapkan Rakernas III. Lebih dari itu, pertemuan tersebut menjadi ruang untuk merawat kepercayaan, memperkuat komunikasi, dan menyatukan langkah di tengah luasnya wilayah Indonesia.
Layar Zoom mungkin akan ditutup. Peserta akan kembali ke daerah masing-masing, melanjutkan pekerjaan dan menghadapi tantangan di wilayahnya. Namun, pekerjaan membangun organisasi tidak berhenti ketika rapat selesai.
Masih ada agenda yang harus dituntaskan, program yang perlu diwujudkan, kompetensi yang harus ditingkatkan, serta kepercayaan publik yang mesti dijaga melalui karya jurnalistik yang berkualitas.
Batam kini menjadi titik temu yang dinantikan. Di sana, PJS diharapkan tidak hanya merumuskan program kerja, tetapi juga mempertegas komitmen bersama untuk menjadikan profesionalisme sebagai budaya organisasi.
Sebab, perjalanan menuju Dewan Pers tidak cukup ditempuh dengan semangat dan harapan semata. Ia membutuhkan konsistensi, pemenuhan persyaratan, penguatan kelembagaan, serta bukti nyata bahwa organisasi mampu mendorong anggotanya menjalankan profesi secara profesional dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan PJS bukan hanya seberapa besar organisasi itu berkembang, melainkan seberapa besar kontribusinya terhadap peningkatan kualitas jurnalisme Indonesia.
Dan dari ruang virtual pada Jumat malam itu, satu pesan kembali menemukan maknanya: PJS bukan sekadar tempat jurnalis berhimpun, melainkan rumah untuk bertumbuh, ruang untuk meningkatkan kompetensi, dan wadah untuk memperjuangkan martabat profesi.
Dari kebersamaan malam itu, langkah menuju Batam pun terus dimatangkan. Bukan semata-mata demi suksesnya Rakernas III, tetapi demi sebuah cita-cita yang lebih besar—menghadirkan jurnalis yang kompeten, berintegritas, dan bermartabat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
PJS bergerak bersama. Profesionalisme menjadi pijakan, integritas menjadi pegangan, dan martabat jurnalistik menjadi tujuan.































