Ruteng, NTT//SI.com- Pemerintah Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelontorkan dana rehabilitasi/pemeliharaan jalan lapen di Desa Ruis-Copu, Kecamatan Reok.
Dana proyek tersebut bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) Anggaran Tahun 2025, dengan nilai kontrak Rp. 593. 622. 800, dengan waktu pelaksanaan kerja 120 hari kalender, dan masa pemeliharaan 365 hari kalender.
Proyek tersebut dikerjakan oleh kontraktor pelaksana CV. Angkasa Utama, dengan konsultan pengawas CV. Mandira Design Konsultan.
Pekerjaan peningkatan jalan lapen pada ruas jalan Ruis–Copu, Kabupaten Manggarai, diduga tidak sesuai dengan standar tekhnis yang berlaku.
Di beberapa titik, material batu yang digunakan tampak berwarna putih dan diduga memiliki daya rekat rendah terhadap aspal. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran masyarakat terkait ketahanan jalan tersebut.

Dilansir TeropongIndonesia.news bahwa, sebagian permukaan jalan terlihat tidak rata, dan lapisan aspal tampak tidak merata dalam proses penyiraman. Sejumlah warga sekitar menilai pengerjaan proyek tersebut terkesan terburu-buru dan minim pengawasan.
“Kami melihat di beberapa titik menggunakan batu putih. Kami khwatir aspalnya tidak merekat dengan baik dan bisa saja sewaktu-waktu terkelupas,” ujar salah satu warga yang enggan disebut namanya seperti dilansir Sabtu (08/11/2025)
Kondisi jalan tersebut juga menjadi perbincangan di media sosial. Seorang pengguna Facebook bernama Bony, menyoroti kualitas pekerjaan yang dianggap tidak sesuai dengan persyaratan tekhnis.
“Pemeliharaan periodik ruas jalan Ruis–Copu sangat memprihatinkan. Hamparan batu pecah (karang putih) tidak sesuai syarat tekhnis, karena tidak menjamin daya rekat aspal. Prime coat dan tack coat pada struktur setiap lapisan perkerasan juga tidak sesuai takaran tekhnis sebagaimana syarat pekerjaan lapen.
Dinas tekhnis PUPR dan konsultan pengawas diharapkan segera memantau pekerjaan ini agar dilaksanakan sesuai syarat tekhnis yang tertuang dalam kontrak kerja kontraktor pelaksana. Bandingkan syarat tekhnis dan fakta di lapangan,” tulisnya.
Masih dilansir TeropongIndonesia.news, menanggapi hal tersebut, PPK Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Manggarai, Chitra Ayu Purwarini, membenarkan adanya kondisi serupa di lapangan. Ia mengakui bahwa terdapat sekitar 7 hingga 10 meter di ruas jalan yang mengalami masalah tersebut.
Menurut Chitra, hal itu terjadi karena proses pembakaran aspal yang terlalu panas. Untuk memadamkan api, pekerja menyiramkan air yang telah dicampur deterjen (rinso) ke dalam drum untuk mematikan api yang sedang menyala.
“Kami sudah menerima laporan dari konsultan pengawas dan direksi. Kejadian itu karena aspal terlalu panas hingga menyala, jadi untuk mematikan api, pekerja menyiramkan air rinso ke dalam drum, sebenarnya itu tidak boleh. Perbaikan akan dilakukan setelah seluruh pekerjaan selesai, karena alat saat ini sudah berada jauh di belakang,” jelasnya.
Chitra juga menegaskan bahwa material yang digunakan dalam proyek tersebut telah melalui uji laboratorium dan dinyatakan layak pakai.
“Kalau material tidak layak, tentu tidak kami izinkan untuk digunakan dalam pekerjaan lapen,” tegasnya.
Terkait permukaan jalan yang terlihat terkelupas dan menampakkan batu putih, Chitra menduga hal itu disebabkan oleh kurangnya pengalaman pekerja di lapangan.
“Kemungkinan pekerjanya belum berpengalaman. Sebenarnya penyiraman air rinso itu hanya boleh dilakukan di luar drum, bukan di dalam drum. Tapi secara keseluruhan, kondisi pekerjaan masih dalam batas aman,” pungkasnya.
Ketika wartawan meminta nomor kontak kontraktor pelaksana untuk melakukan konfirmasi lebih lanjut, Chitra menyatakan bahwa dirinya harus meminta izin terlebih dahulu kepada pihak kontraktor sebelum memberikan nomor handphone tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, kontraktor pelaksana peroyek tersebut belum berhasil dikonfirmasi untuk dimintai penjelasannya.
Pewarta : Dody Pan































