Ruteng, NTT//SI.com- Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) pada tanggal 9 Februari 2026, Perhimpunan Jurnalis Manggarai (Prisma) menggandeng sejumlah lembaga untuk melakukan aksi bersih pasar Inpres Ruteng, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, yang dinilai kotor dan semerawut.
Melansir portal resmi Provinsi Banten, Hari Pers Nasional 2026 mengangkat tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”.
Adapun beberapa lembaga yang digandeng meliputi Kodim 1612 Manggarai, Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Kabupaten Manggarai, Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II-B Ruteng, dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ruteng, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Manggarai, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unika Santu Paulus Ruteng dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Karya Ruteng, serta Organisasi Intra Sekolah (OSIS) Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan di kota Ruteng.
Semua tampak berjibaku membersihkan pasar yang berada di pusat kota Ruteng itu. Banyak sampah yang masih berserakan menghiasi area pasar.
Sampah plastik dan jenis lainnya menumpuk di badan got sekitar tempat jualan. Air kotor yang diduga limbah rumah tangga dan sisa air hujan tampak menggenangi sejumlah got. Bau busuk menyeruak.
Tumpukan sampah serupa juga terlihat di sekitar lapak-lapak penjual di dalam pasar. Limbah sayur yang berada di sekitar tempat jualan dilepas begitu saja.
Saat dilakukan pembersihan, beberapa pedagang di sekitar lokasi bersikap apatis. Mereka hanya menonton ketika sampah milik mereka dibersihkan.
Sampah lain yang menumpuk rupanya sudah dibiarkan begitu saja dalam jangka waktu lama.
Ambrosius Jatam, anggota Prisma menyebut aksi yang dilakukan hari ini, Sabtu (07/02/2026) merupakan dalam rangka menyongsong Hari Pers Nasional yang puncaknya pada 9 Februari.
Ia mengaku peran pers tidak hanya sebatas pada narasi pemberitaan. Namun langkah nyata semacam ini menjadikannya pers hadir juga sebagai solutif.
“Kami melihat situasi Pasar Inpres Ruteng begitu memprihatinkan,” ungkap Ambrosius Jatam atau yang biasa dikenal Bros Jatam
Alasan tersebut, menurutnya, menjadikan pasar ini sebagai lokasi pembersihan.
Ia mengatakan bahwa sampah yang berserakan dan dibiarkan begitu saja membuat wajah Pasar Inpres Ruteng semakin buruk.
Bila dibiarkan terus, maka pasar ini tidak lain hanya sebagai ‘gudang sampah’ yang dipaksakan jadi tempat jual-beli.
“Kita melihat sampah di pasar terlalu banyak. Dengan begitu, masalah sampah adalah tugas bersama,” terangnya.
Ambros juga mendorong para pedagang agar rasa memiliki terhadap tempat mereka mengais rezeki. Apatis adalah sikap yang salah.
“Apabila pasar bersih, aktivitas jual-beli lebih terasa nyaman,” tegasnya.
Ia juga meminta Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Manggarai agar menyediakan alat kebersihan pendukung di area pasar.
Tidak hanya itu, pemerintah juga didorong untuk selalu memantau kondisi pasar agar tidak terjadi potensi pencemaran tanah, air, dan udara akibat aktivitas pasar.
“Lalu wajib memberikan penyuluhan bagi pelaku pasar yang malas tahu untuk memulai pola perilaku hidup bersih,” kata Ambros.
Sementara Helena Donisia Yosoa, seorang guru yang ikut terlibat dalam aksi tersebut berpendapat menjaga kebersihan pasar sangat penting dan krusial bagi kehidupan masyarakat.
Menurutnya pasar merupakan tempat banyak orang untuk berkumpul dan segala jenis bahan makanan segar diperjualbelikan di situ.
“Jika pasarnya kotor, bisa mempengaruhi kualitas dan keselamatan makanan yang dikonsumsi masyarakat setiap hari,” kata Helena yang juga guru Sekolah Menengah Atas Karya Ruteng.
Ia menyebut, menjaga kebersihan pasar bukan sekadar tampilannya yang rapi, melainkan tentang kesehatan masyarakat dan lingkungannya.
Maria Kornelia, salah satu pengunjung mengaku tidak nyaman ketika datang ke pasar.
Meksi kondisinya begitu, ia terpaksa harus ke Pasar Inpres Ruteng untuk berbelanja kebutuhan rumah.
“Karena ini saja pusat jual bahan makanan makanya terpaksa ke sini saja,” aku Maria.
Ia mengatakan tanggung jawab kebersihan pasar, utamanya adalah pedagang ataupun pengelola pasar.
Namun, ia mengapresiasi dan menyambut baik bila ada komunitas maupun relawan yang turut peduli terhadap kondisi pasar.
“Kalau tidak dibersihkan pasti kotor terus, apalagi memasuki musim hujan seperti sekarang. Jelasnya akan muncul bau di mana-mana,” tegasnya.
Pewarta : Dody Pan
































