Akhir-akhir ini, kita menyaksikan berbagai aksi unjuk rasa yang berlangsung di Jakarta dan beberapa titik di Indonesia. Sebagai bagian dari elemen bangsa, kami di Pemuda Panca Marga (PPM) Kabupaten PALI turut mencermati dinamika ini dengan penuh keprihatinan. Unjuk rasa adalah bagian dari hak demokrasi, tetapi ketika berubah menjadi anarkis, maka hakikat perjuangan aspirasi justru tercederai.
Bagi kami, sebagai organisasi kemasyarakatan yang lahir dari semangat pengabdian putra-putri pejuang 1945, menyampaikan aspirasi seharusnya ditempuh dengan cara bermartabat, melalui jalur dialog dan musyawarah, bukan dengan kekerasan. Oleh sebab itu, kami mengingatkan seluruh anggota PPM di PALI dan seluruh anak bangsa untuk tidak terprovokasi oleh pihak-pihak yang ingin menggeser aspirasi murni menjadi kericuhan.
Kami juga mengimbau semua elemen masyarakat yang turun ke jalan agar tetap menjaga ketertiban. Ingatlah, betapa pun kerasnya perbedaan pendapat, kita tetap sesama anak bangsa. Bentrokan fisik hanya akan melahirkan luka yang memperdalam perpecahan, sementara esensi dari perjuangan akan hilang begitu saja.
Di sisi lain, kami menegaskan pentingnya memberikan dukungan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang baru berjalan 10 bulan. Agenda ekonomi dan pembangunan yang tengah dirintis membutuhkan waktu, ruang, dan dukungan kolektif dari rakyat. Kami percaya, dengan menjaga stabilitas keamanan, roda pembangunan akan lebih cepat berputar menuju kesejahteraan bersama.
Kami juga menaruh apresiasi terhadap kepemimpinan eksekutif dan legislatif di Kabupaten PALI yang selama ini menghadapi dinamika massa dengan pendekatan dialogis. Cara ini bukan hanya menenangkan suasana, tetapi juga menunjukkan kedewasaan politik yang patut ditiru oleh pemerintah daerah lain, bahkan pemerintah pusat.
Menjelang rencana aksi damai di depan Kantor DPRD Sumatera Selatan, kami menegaskan kembali seruan untuk menghindari konflik fisik dengan siapa pun. Jalan damai adalah jalan yang paling mulia. Jangan sampai semangat menyampaikan aspirasi justru dimanfaatkan pihak luar yang ingin mengadu domba sesama anak bangsa.
Sejarah bangsa ini sudah berulang kali menunjukkan, strategi divide et impera atau politik adu domba adalah senjata yang digunakan penjajah untuk melemahkan persatuan kita. Maka, waspadalah terhadap penjajahan gaya baru, yang kerap hadir tidak lagi dengan senjata, tetapi melalui intervensi ekonomi, budaya, dan politik.
Kami, Pemuda Panca Marga Kabupaten PALI, teguh pada satu komitmen: menjaga persatuan, merawat keamanan, dan mengawal kesejahteraan rakyat.