Redaksi sarana informasi.com
BANYUASIN, si.com// Suasana konferensi pers yang digelar Polres Banyuasin pada Jumat (29/8/2025) mendadak ricuh. Sebanyak 33 wartawan dari berbagai media, baik online, cetak, maupun elektronik, kompak meninggalkan Aula Polres Banyuasin saat kegiatan hendak dimulai.
Aksi walk out tersebut dipicu kekecewaan para jurnalis lokal terhadap pihak Humas Polres Banyuasin yang dinilai lebih memprioritaskan wartawan dari luar daerah dibandingkan dengan wartawan Banyuasin sendiri. Perlakuan itu dianggap sebagai bentuk diskriminasi yang melukai perasaan wartawan lokal.
“Ini bentuk protes kami, karena merasa dianaktirikan. Padahal kami yang sehari-hari meliput kegiatan Polres di Banyuasin,” beberapa wartawan media online, yang menjadi juru bicara dari aksi spontan tersebut.
Menurut sejumlah wartawan, pihak Humas terkesan tidak menghargai keberadaan mereka yang selama ini sudah berperan besar dalam menyebarluaskan informasi mengenai kinerja Polres Banyuasin. Bahkan, salah satu anggota Humas sempat menyampaikan ucapan yang dinilai merendahkan martabat wartawan lokal.
Perlakuan diskriminatif semacam itu, kata para jurnalis, jelas mencederai hubungan baik antara Polres dan insan pers yang selama ini terbangun cukup harmonis. Mereka menilai sikap arogansi tersebut bisa menimbulkan jarak dan ketidakpercayaan di kemudian hari.
Aksi meninggalkan aula dilakukan serentak sebagai bentuk peringatan agar pihak Polres, khususnya bagian Humas, segera melakukan evaluasi dan perbaikan dalam pola komunikasi. Para wartawan menegaskan bahwa mereka tetap berkomitmen menjalankan fungsi kontrol sosial, namun menolak diperlakukan tidak adil di “rumah sendiri.”
Para jurnalis berharap Kapolres Banyuasin segera turun tangan untuk menertibkan kinerja Humas. Mereka mengingatkan bahwa pers adalah mitra strategis aparat penegak hukum dalam menyampaikan informasi kepada publik, sehingga sudah sepatutnya dijalin hubungan yang setara, saling menghormati, dan profesional.
Editor Pahrul Edi